Rabu, 16 November 2011

Kumpulan Legenda dan Fabel


LEGENDA :

“BANYUWANGI”

Zaman dahulu kala di Jawa Timur, hiduplah seorang Raja dan Permaisuri yang saling mencintai. Dan permaisurinya  yang cantik itu sangat setia pada suaminya (Raja).

Pada suatu hari, Raja berniat pergi ke hutan untuk berburu rusa. Berangkatlah Raja disertai para pengawalnya.

Setelah lama berada dihutan, pulanglah Raja ke istana. Permaisuri sangat bahagia ketika melihat Raja pulang ke istana.

Permaisuri mengabarkan bahwa istana kedatangan tamu dari kerajaan tetangga. Tapi di saat Raja ingin menemui tamu itu, tiba-tiba Raja mendengar bahwa tamu tersebut sangat akrab pada Permaisuri. Sehingga Raja marah dan cemburu dan menuduh Permaisuri selingkuh dengan tamu itu. Permaisuri berusaha meyakinkan Raja bahwa itu tidak benar.

Namun Raja tetap tidak percaya pada kata-kata Permaisuri. Dengan berurai air mata Permaisuri berkata: “Kanda, Dinda ingin membuktikan bahwa Dinda tidak bersalah, Dinda akan menghanyutkan diri ke sungai. Jika nanti air sungai itu berbau busuk, berarti tuduhan Kanda benar. Namun, jika air sungai itu harum, berarti Dinda tidak bersalah, “SELAMAT TINGGAL KANDA”.

Tidak lama setelah itu, Permaisuri menghanyutkan diri ke sungai, tercium bau yang harum sekali dari sungai itu. Betapa menyesalnya Raja akan hal itu, namun penyesalan beliau sudah terlambat, Permaisuri telah meninggal dunia. Semenjak peristiwa tersebut, sungai tempat meninggalnya Permaisuri itu diberi nama “BANYUWANGI”.



 FABEL :
“BUAYA DAN BURUNG PENYANYI”
Buaya dan Burung Penyanyi bersahabat akrab. Hari ini mereka asyik bercakap. Burung Penyanyi bertengger di hidung Buaya. Namun beberapa saat kemudian, Buaya merasa mengantuk. Ia menguap dan membuka mulutnya lebar-lebar. Oh, Burung Penyanyi yang bertengger di hidung Buaya terpeleset masuk ke dalam mulut Buaya. Sayangnya, Buaya tidak tahu. Ia bingung mencari Burung Penyanyi yang kini tak ada lagi di hidungnya.
“Aneh! Ke mana Burung Penyanyi?” gumam Buaya. “Ia pasti sedang mengajakku bercanda,” Buaya melihat ke belakang, ke ekornya. Namun burung itu tidak ada. Buaya lalu mencari Burung Penyanyi di semak-semak. Ia memasukkan moncongnya ke semak-semak di tepi sungai. Namun Burung Penyanyi tetap tidak ditemukannya. “Ke mana ia?” gumam Buaya kembali.
Buaya akhirnya memejamkan mata untuk tidur. Tapi tiba-tiba terdengar senandung merdu yang keluar dari dalam dirinya. “Oh!” serunya heran. Matanya terbuka lebar. “Selama hidup, baru kali ini aku dapat bernyanyi. Wow, aku akan mengajak Burung Penyanyi sahabatku untuk bernyanyi bersama. Pasti akan sangat menyenangkan!”
Buaya kemudian asyik mendengarkan senandung yang keluar dari dalam dirinya. Setelah beberapa lama ia merasa lelah. Ia lalu membuka mulutnya, dan menguap lebar-lebar. Ketika akan menutup matanya, matanya melihat satu makhluk bertengger di hidungnya. Makhluk itu kelihatan sangat marah. Dia si Burung Penyanyi. “Kau jahat!” omel burung itu. “Mengapa kau tidak memberi tahu kalau ingin membuka mulut? Aku terjatuh ke dalam mulutmu, tahu? Menyebalkan!”
Buaya mengernyitkan dahi. “Jadi,” katanya, “Senandung yang terdengar dari dalam diriku itu suara senandungmu? Bukan senandungku?”
“Ya!” jawab Burung Penyanyi. Ekornya digoyang-goyangkan. “Kau kan tahu, kau tidak bisa bernyanyi sama sekali! Suaramu sangat sumbang! Tak enak didengar!”
Buaya sangat sedih mendengar perkataan itu. Airmatanya menetes. “Aku pikir senandung itu suaraku,” katanya pilu. “Kau tahu, aku ingin sekali bisa bernyanyi. Dan tadi kupikir aku sudah bisa menyanyi. Ternyata? Oh, betapa malangnya aku yang bersuara buruk!”
Burung Penyanyi merasa iba. Ia segera mencari cara untuk menghibur sahabatnya itu. “Teman, bagaimana kalau kau membuat gelembung-gelembung air dan aku bersenandung? Kita lakukan bersamaan. Suara yang terdengar pasti sangat enak didengar.”
Buaya setuju. Ia lalu memasukkan moncongnya ke dalam air dan membuat gelembung-gelembung. Burung Penyanyi bernyanyi. Suara nyanyiannya sangat pas dengan suara gelembung-gelembung air yang dibuat Buaya. Buaya senang sekali. Dan sejak itu mereka berdua selalu melakukan hal itu setiap hari.
Dan, agar Burung Penyanyi masuk lagi ke dalam mulutnya, Buaya selalu memberitahu dulu sebelum membuka mulutnya. Wow, rukun ya mereka!
(SELESAI)

LEGENDA :
“PUTRI HIJAU”
Di zaman dahulu kala pernah hidup di Kesultanan Timur Besar kira-kira 10 Km dari Kampung Medan (yakni sekarang di Deli Tua, Sumatra Utara), seorang Putri yang sangat cantik dan karena kecantikannya diberi nama Putri Hijau. Kecantikan Putri ini tersohor kemana-mana mulai dari Aceh sampai ke ujung Utara Pulau Jawa. Sultan Aceh jatuh cinta pada Putri itu dan melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. Lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh kedua saudara laki-laki Putri Hijau. Sultan Aceh sangat marah karena penolakan itu dianggapnya sebagai penghinaan terhadap dirinya. Maka Kesultanan Aceh pun memerangi Kesultanan Deli, yg waktu itu dipimpin oleh saudara tua Putri, Mambang Yazid.

Al-kisah, dengan menggunakan kekuatan gaib seorang saudara tua Putri Hijau (Mambang Yazid)menjelma menjadi seekor ular naga dan seorang lagi (Mambang Hayali) menjadi sepucuk meriam yang tidak henti-hentinya menembaki tentara Aceh hingga akhir hayatnya. Kesultanan Deli Lama mengalami kekalahan dalam peperangan itu dan karena kecewa Putra Mahkota yang menjelma menjadi meriam itu meledak sebagian, bagian belakangnya terlontar ke Labuhan Deli dan bagian depannya ke dataran tinggi Karo kira-kira 5 Km dari Kabanjahe.

Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh melalui Selat Malaka. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur dan permohonan puan Putri dikabulkan. Tetapi baru saja upacara dimulai tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat disusul gelombang-gelombang yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncullah abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dan dengan menggunakan rahangnya yang besar itu diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.


FABEL :
“KERA DAN AYAM”
Pada jaman dahulu, tersebutlah seekor ayam yang bersahabat dengan seekor kera. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si kera. Pada suatu petang Si Kera mengajak si ayam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang si Kera mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Ayam dan mulai mencabuti bulunya. Si Ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ia dapat meloloskan diri.
Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si Kepiting adalah teman sejati darinya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang kediaman si Kepiting. Disana ia disambut dengan gembira. Lalu Si Kepiting menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Kera.
Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Kera. Ia berkata, "marilah kita beri pelajaran kera yang tahu arti persahabatan itu." Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Kera. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si Kera untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat.
Kemudian si Ayam mengundang si Kera untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Kera segera menyetujui ajakan itu. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, mereka lalu berpantun. Si Ayam berkokok "Aku lubangi ho!!!" Si Kepiting menjawab "Tunggu sampai dalam sekali!!"
Setiap kali berkata begitu maka si ayam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut. Si Ayam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Kera yang meronta-ronta minta tolong. Karena tidak bisa berenang akhirnya ia pun mati tenggelam.
(SELESAI)

                                 
LEGENDA :
“BATU GANTUNG”
Alkisah hiduplah seorang putri raja yang bernama Pinta Omas boru Sinambela yaitu putri dari Raja Sisingamangaraja X. Di lain tempat, ada seorang wanita bernama Nai Hapatihan yaitu , adik perempuan dari Sisingamangaraja X (ibotona). Nai Hapatihan menikah dengan seorang Aceh, dan melahirkan anak bernama Fakih Amiruddin.

Nah, suatu ketika si Pinta Omas ini ternyata bertemu dengan si Fakih dan saling suka. Kalo dilihat dari Tarombonya Batak, Maka Pinta Omas ini adalah Pariban dari Fakih. Oleh sebab itu mereka semakin jatuh cinta......

Namun ternyata sang ayah (Raja Sisingamangaraja X)  tidak setuju dengan hubungan mereka, versi cerita lain menyebutkan bila mereka menikah, maka Fakih akan jadi saingan Sisingamangaraja X untuk merebut kedaulatan di Tanah Batak. Versi lain menyebutkan bahwa si Pinta Omas ternyata udah dijodohin sama orang yang berketurunan Ningrat, berkasta tinggi, dan menjadi kepercayaan sang bapak.

Karena hubungan mereka tidak disetujui, dan karena mereka sudah sangat jatuh cinta, maka dalam kekecewaan, dan tangisan yang menyayat hati, si Pinta Omas berlari keluar rumahnya, menuju ke tepi bukit. Di situ dia menghirup nafas 3 kali, berbalik sejenak untuk memandangi rumahnya dari jauh sambil berlinang air mata penuh kekecewaan, dan sambil mengelus anjing kesayangannya, ia melompat dari tebing menuju ke danau Toba dan ternyata disusul oleh anjing kesayangannya.

Tetapi tak diduga kakinya si Pinta Omas tersangkut ke akar pohon. Sehingga ia tidak terjatuh melainkan tergantung di tepi bukit itu dan kemudian berubahlah dia menjadi Batu.

Hingga saat ini, kalo kita datang berwisata ke Sumatera Utara, atau lewat dari kota Parapat kita masih akan melihat bentuk sebuah batu menyerupai manusia yang tergantung di tepian sebuah jurang. 

Banyak orang menafsirkan bahwa batu gantung itu merupakan lambang kesedihan, yaitu ketika sebuah cinta tidak terbalas. Itulah sebabnya jaman skarang orang tua suku batak lebih membiarkan anaknya menentukan pilihan teman hidupnya, kita so pasti ngerti bahwa cinta tidak dapat dipaksakan,  akan memilih sendiri kapan, dimana, dan siapa. 



FABEL :
“SEEKOR KAMBING DAN SERIGALA”
Seekor serigala yang kehausan tiba di tepi sebuah telaga. Ketika hendak minum dilihatnya seekor kambing sedang minum juga di tempat itu. Namun tidak seperti kambing-kambing lainnya yang akan kabur bila melihatnya, kambing yang satu ini tetap tenang meneruskan minumnya. Dengan heran, serigala mendekati kambing.
“Halo kambing! Apa kabar?”sapanya
“Oh, kabar baik serigala. Bagaimana denganmu?” balas kambing.
“Baik juga,” jawab serigala. “Ngomong-ngomong kenapa kau tak takut melihatku? Bukankah biasanya teman-temanmu akan kabur bila melihatku?”
“Ah, kau lupa padaku?” tanya kambing. “Coba kau perhatikan aku baik-baik dan ingat-ingat, kau pasti mengenalku!”
Serigala mencoba untuk mengingat dimana dia pernah bertemu dengan kambng yang satu ini. Lalu tiba-tiba dia ingat, “o ya aku ingat! Bukankah kau kambing yang pernah menyelamatkanku?”
Serigala ingat, saat itu dia sedang asyik memakan daging sapi buruannya ketika tiba-tiba terdengar bunyi letusan senapan dan jeritan kambing. Rupanya kambing menyeruduk si pemburu sehingga bidikannya luput dan serigala selamat.
“Maafkan aku kawan,” kata serigala. “Tadi aku hampir tidak mengenalimu. Terima kasih karena kau telah menyelamatkanku!”
“Sama-sama kawan!” kata kambing. Lalu kambing pun berpamitan. Dalam hati kambing bersyukur karena tidak jadi dimangsa oleh serigala.
(SELESAI)



Legenda :

“MALIN KUNDANG”

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.


Fabel :

“BURUNG GAGAK DAN SEBUAH KENDI”
Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.
Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.


Legenda :

Danau Lau Kawar


(Cerita Rakyat Sumatera Utara)

Danau Lau Kawar terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Danau ini terkenal akan airnya yang jernih dan tenang serta pemandangan alamnya yang indah. Namun, dibalik pesona keindahan tersebut tersimpan suatu kisah luar biasa mengenai asal usul terjadinya danau yang oleh sebagian masyarakat di sekitarnya diyakini kebenarannya. Kisahnya adalah sebagai berikut.

Alkisah, pada zaman dahulu kala Lau Kawar bukanlah sebuah danau seperti sekarang ini, melainkan sebuah desa yang bernama Kawar. Masyarakatnya hidup dari hasil bercocok tanam di ladang yang selalu subur walau tidak memakai pupuk atau obat-obatan lainnya. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat hingga dua kali lipat. Akibatnya, lumbung-lumbung mereka pun menjadi penuh. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang harus menaruh hasil panennya di dalam rumah karena sudah tidak muat lagi di lumbung.

Atas keberhasilan panen itu, mereka lalu bergotong-royong mengadakan pesta adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada hari pelaksanaan, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Dalam pesta adat itu warga Desa Kawar tampak bergembira ria kecuali seorang perempuan tua yang ditinggal seorang diri di dalam rumahnya. Ia tidak mengikuti pesta karena menderita lumpuh dan tidak dapat berjalan lagi. Sementara anak, menantu, dan para cucunya asyik sibuk mengikuti pesta dan tidak mempedulikannya lagi.

Sambil terbaring di atas pembaringannya, si nenek tua itu pun berkata, “Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi apa dayaku. Jangankan berjalan, berdiripun aku sudah tidak sanggup lagi.”

Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Saat mendengar secara sayup-sayup suara gendang guro-guro didendangkan, teringatlah ia ketika masih remaja dan ikut menari berpasangan dengan para pemuda desa yang gagah dan tanpan. Namun, semuanya hanya tinggal kenangan saja. Kini, tinggallah siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang mempedulikannya.

Ketika tiba saatnya makan siang, seluruh warga yang tengah berpesta tersebut segera berkumpul di balai desa untuk menyatap berbagai macam makanan yang telah disiapkan. Saat mereka makan sesekali terdengar suara tawa karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa bahwa ada seorang diantara mereka yang tidak dapat mengikuti pesta karena keterbatasan fisiknya.

Orang itu adalah si nenek yang sudah sejak tadi merasa lapar. Ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan untuknya. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak ada seorang pun yang datang. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba merangkat ke dapur untuk mencari makanan. Tetapi setelah sampai di dapur ia tidak menemukan sedikitpun makanan karena anak-anak perempuannya sengaja tidak memasak pada hari itu.

Sambil merangkak kembali menuju pembaringannya si nenek meratap, “Ya Tuhan! Anak-cucuku benar-benar telah tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!”

Di tempat lain, saat pesta makan telah usai anak si nenek rupanya baru ingat kalau ibunya belum makan. Ia kemudian menghampiri isterinya dan berkata, “Isteriku! Apakah kamu sudah mengantarkan makanan untuk ibu?”


“Belum,” jawab sang isteri singkat.

“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan lalu suruh anak kita menghantarkannya!” perintah sang suami.

“Baiklah,” jawab sang isteri sambil berjalan ke arah makanan sisa pesta lalu membungkus beberapa diantaranya dan memberikan pada anaknya untuk di bawa pulang.

Sesampainya di rumah, si anak segera menyerahkan bungkusan makanan itu pada neneknya lalu berlari kembali ke tempat pesta. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat lapar yang teramat sangat, tiba-tiba saja ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira ia lalu membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa isi bungkusan hanyalah makanan sisa yang sudah tidak utuh lagi.

“Ya Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang,” gumam sang nenek dengan perasaan kesal.

Sebenarnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih hangat dan utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakannya sehingga yang tersisa sebagian besar hanyalah tulangnya saja.

Si nenek yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Ia merasa sangat terhina dan segera berdoa kepada Tuhan agar anak dan menantunya diberikan ganjaran yang setimpal.

Singkat cerita, setelah selesai mengucapkan doa secara tiba-tiba terjadi sebuah gempa bumi yang sangat dahsyat. Selanjutnya, langit menjadi mendung disertai guntur menggelegar dan tak lama kemudian turunlah hujan dengan lebatnya. Dalam sekejap mata, Desa Kawar yang subur dan makmur itu tiba-tiba tenggelam beserta seluruh penduduknya dan berubah menjadi sebuah danau seperti sekarang ini.

7 komentar:

Unknown mengatakan...

Cerita dari SUMSEL yng mana ???

Admin mengatakan...

Keren nih novel udah baca tapi blom tamat hehe

Ina mengatakan...

Ini ceritanya dari sumatra utara ya? Ada buku yg jadi refrensi gak??
Terimakasih

Miliana mengatakan...

suka deh baca bacanya

top up ovo alfamart

Unknown mengatakan...

BetLigaidn Situs SBOBET Resmi Terbaik Di Indonesia. LigaIDN Menyediakan Game Judi Bola & Live Casino SBOBET Online Terbaik dan Terpercaya Di Seluruh Indonesia.

Minimal Untuk Deposit & Withdraw Di LigaIDN Rp 50.000,-
LigaIDN Memberikan Bonus Menarik dan Terbesar, Antara Lain :
- Bonus Member Baru 100%
- Bonus Deposit Harian 10%
- Bonus Cashback Mingguan 5%
- Bonus Rollingan Casino 1%
- Bonus Ajak Teman 2,5%
- Bonus Win Streak Bola Hingga Jutaan
- Bonus Cashback Parlay 100%

Jenis Permainan Yang Tersedia : - SBOBET
- IBCBET / MAXBET & NOVA88
- C-SPORT
- SLOT GAME - PRAGMATIC, JOKER, HABANERO, dll
- Tangkas
- Parlay Bola Jalan
- Parlay 2 Tim
- Parlay Bet Seribu Rupiah

Segera Daftarkan Diri Anda Bersama Kami Di LigaIDN
Kemenangan Akan Senantiasa Menanti Anda Disini.

Contact Resmi LigaIDN :
- Whatsapp : +62-821-9827-6366

juminten mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

Alah dodol

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates